Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI)
kini semakin merambah ke jantung proses pedagogi dan menghadirkan era baru
dalam dunia pendidikan. AI tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat bantu
administratif, tetapi telah berkembang menjadi instrumen strategis yang
menawarkan personalisasi pembelajaran dalam skala besar. Merespons perkembangan
tersebut, Program Pascasarjana IAIN Kediri menyelenggarakan Studium General
Semester Genap Tahun Akademik 2023/2024 pada Kamis, 27 Maret 2024.
Kegiatan yang mengusung tema “AI Technologies for Education:
Applications in Teaching and Learning” ini diikuti oleh sekitar 100 peserta
yang terdiri dari mahasiswa pascasarjana lintas angkatan. Studium General ini
menghadirkan narasumber internasional, Jon Mason, Ph.D, dosen dari Charles
Darwin University, Australia, dengan Dr. Toyibah, M.Pd selaku Person in
Charge (PiC) kegiatan.
Dalam pemaparannya, Jon Mason menjelaskan bahwa salah satu aplikasi AI
paling signifikan dalam pendidikan adalah sistem pembelajaran adaptif.
Teknologi ini bekerja dengan menganalisis kecepatan belajar, kekuatan, serta
kelemahan peserta didik secara real-time, sehingga materi pembelajaran
dapat disesuaikan secara otomatis dengan kebutuhan individu.
“Di Australia, AI tidak menggantikan peran guru, melainkan memberikan
guru ‘mata’ yang lebih tajam untuk melihat kebutuhan setiap murid di kelas yang
heterogen,” ungkap Jon Mason.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa AI juga memberikan efisiensi tinggi
bagi pendidik dalam menyusun rencana pembelajaran dan bahan ajar. Melalui
pemanfaatan AI generatif, guru dapat menyusun kuis yang variatif,
menyederhanakan materi yang kompleks, serta mengembangkan modul pembelajaran
dalam waktu yang relatif singkat. Dengan demikian, pendidik memiliki ruang yang
lebih luas untuk fokus pada penguatan karakter dan pengembangan soft skills
mahasiswa.
Meski menawarkan potensi besar, Jon Mason juga mengingatkan bahwa
implementasi AI dalam pembelajaran tidak lepas dari tantangan. Isu kesenjangan
akses teknologi (digital divide) serta kebutuhan peningkatan literasi digital
bagi tenaga pendidik menjadi perhatian penting agar pemanfaatan AI dapat
berjalan secara optimal dan berkeadilan.
Senada dengan hal tersebut, PiC kegiatan Dr. Toyibah, M.Pd, yang juga
menjabat sebagai Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris,
menegaskan bahwa kehadiran AI harus diimbangi dengan kemampuan adaptif para
pengajar dan mahasiswa.
Ia menekankan pentingnya kemauan untuk terus belajar dan memperbarui kompetensi
agar pemanfaatan AI benar-benar mendukung peningkatan kualitas pembelajaran.
Melalui Studium General ini, Pascasarjana IAIN Kediri berharap mahasiswa
dan dosen memiliki pemahaman yang komprehensif tentang pemanfaatan AI secara
bijak. Dengan integrasi yang tepat, teknologi AI diyakini mampu menciptakan
ekosistem pendidikan yang lebih inklusif, efisien, dan siap menghadapi dinamika
industri masa depan. (RFA)





