Transformasi pendidikan Islam di Indonesia tidak dimaknai sebagai upaya
meninggalkan tradisi keilmuan masa lalu, melainkan sebuah proses kontinuitas
dan evolusi yang berangkat dari nilai-nilai luhur untuk menjawab tantangan
zaman. Prinsip al-qadim al-shalih wa al-jadid al-ashlah menjadi landasan
utama perubahan tersebut, di mana tradisi dijaga dan inovasi diadopsi secara
bijak.
Refleksi atas dinamika tersebut menjadi fokus dalam Studium General
Semester Ganjil Tahun Akademik 2024/2025 yang diselenggarakan oleh Program
Pascasarjana IAIN Kediri pada Senin, 2 September 2024. Kegiatan ini mengusung
tema “Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia: Refleksi Kontinuitas dan
Perubahan” dan diikuti oleh sekitar 100 mahasiswa dari program Magister dan
Doktor.
Studium General ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Achmad Muhibbin
Zuhri, M.Ag, Guru Besar dari UIN Sunan Ampel Surabaya, dengan Dr. Andriani, MM
selaku Person in Charge (PiC) kegiatan. Dalam paparannya, Prof. Muhibbin
menegaskan bahwa transformasi pendidikan Islam di Indonesia berlangsung secara
evolutif, seiring dengan perubahan sosial, budaya, dan teknologi.
Menurutnya, perubahan pendidikan Islam setidaknya mencakup tiga aspek
utama. Pertama, integrasi keilmuan, di mana tidak lagi terdapat dikotomi antara
ilmu agama dan ilmu umum. Pembelajaran sains, teknologi, hingga keterampilan
digital dipahami sebagai bagian dari ibadah dan upaya memahami ayat-ayat
kauniyah Tuhan.
Kedua, penguatan moderasi beragama. Di tengah arus globalisasi dan
keberagaman, pendidikan Islam berperan sebagai benteng moderasi dengan
menanamkan nilai toleransi, kemanusiaan, serta cinta tanah air dalam kurikulum
dan praktik pembelajaran. Ketiga, kemandirian ekonomi, yang ditunjukkan melalui
transformasi pesantren menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat melalui
pengembangan kewirausahaan dan unit-unit bisnis mandiri.
Selain itu, Prof. Muhibbin juga menekankan bahwa kontinuitas pendidikan
Islam terwujud dalam keteguhan menjaga mata rantai keilmuan (sanad). Meskipun
akses informasi keagamaan semakin terbuka melalui teknologi digital, lembaga
pendidikan Islam di Indonesia tetap menegaskan pentingnya bimbingan langsung
antara guru dan murid (talaqqi) sebagai fondasi otoritas keilmuan.
Transformasi yang berlangsung ini membawa optimisme besar bagi masa depan pendidikan Islam nasional. Dengan kemampuannya memadukan spiritualitas yang mendalam dan kemajuan teknologi, pendidikan Islam di Indonesia diproyeksikan mampu menjadi kiblat pendidikan Islam dunia. Indonesia membuktikan bahwa menjadi religius tidak berarti tertinggal secara intelektual, melainkan justru mampu tampil adaptif, progresif, dan berdaya saing global. (RFA)






