Jalan Jokoriyo Ngronggo Kota Kediri

+62 898-8090-120

Kami berkomitmen untuk mencetak generasi cendekia yang unggul, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan global. Dengan lingkungan akademik yang kondusif, dosen berkualitas, serta jaringan luas, Pascasarjana UIN Syekh Wasil Kediri hadir sebagai rumah ilmu untuk perjalanan akademik dan spiritual Anda.

Contact Info

Jalan Jokoriyo Ngronggo Kota Kediri
[email protected]
+62 898-8090-120

Follow Us

Studium General Pascasarjana IAIN Kediri Bahas Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia

Transformasi pendidikan Islam di Indonesia tidak dimaknai sebagai upaya meninggalkan tradisi keilmuan masa lalu, melainkan sebuah proses kontinuitas dan evolusi yang berangkat dari nilai-nilai luhur untuk menjawab tantangan zaman. Prinsip al-qadim al-shalih wa al-jadid al-ashlah menjadi landasan utama perubahan tersebut, di mana tradisi dijaga dan inovasi diadopsi secara bijak.

Refleksi atas dinamika tersebut menjadi fokus dalam Studium General Semester Ganjil Tahun Akademik 2024/2025 yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana IAIN Kediri pada Senin, 2 September 2024. Kegiatan ini mengusung tema “Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia: Refleksi Kontinuitas dan Perubahan” dan diikuti oleh sekitar 100 mahasiswa dari program Magister dan Doktor.

Studium General ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Achmad Muhibbin Zuhri, M.Ag, Guru Besar dari UIN Sunan Ampel Surabaya, dengan Dr. Andriani, MM selaku Person in Charge (PiC) kegiatan. Dalam paparannya, Prof. Muhibbin menegaskan bahwa transformasi pendidikan Islam di Indonesia berlangsung secara evolutif, seiring dengan perubahan sosial, budaya, dan teknologi.

Menurutnya, perubahan pendidikan Islam setidaknya mencakup tiga aspek utama. Pertama, integrasi keilmuan, di mana tidak lagi terdapat dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Pembelajaran sains, teknologi, hingga keterampilan digital dipahami sebagai bagian dari ibadah dan upaya memahami ayat-ayat kauniyah Tuhan.

Kedua, penguatan moderasi beragama. Di tengah arus globalisasi dan keberagaman, pendidikan Islam berperan sebagai benteng moderasi dengan menanamkan nilai toleransi, kemanusiaan, serta cinta tanah air dalam kurikulum dan praktik pembelajaran. Ketiga, kemandirian ekonomi, yang ditunjukkan melalui transformasi pesantren menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat melalui pengembangan kewirausahaan dan unit-unit bisnis mandiri.

Selain itu, Prof. Muhibbin juga menekankan bahwa kontinuitas pendidikan Islam terwujud dalam keteguhan menjaga mata rantai keilmuan (sanad). Meskipun akses informasi keagamaan semakin terbuka melalui teknologi digital, lembaga pendidikan Islam di Indonesia tetap menegaskan pentingnya bimbingan langsung antara guru dan murid (talaqqi) sebagai fondasi otoritas keilmuan.

Transformasi yang berlangsung ini membawa optimisme besar bagi masa depan pendidikan Islam nasional. Dengan kemampuannya memadukan spiritualitas yang mendalam dan kemajuan teknologi, pendidikan Islam di Indonesia diproyeksikan mampu menjadi kiblat pendidikan Islam dunia. Indonesia membuktikan bahwa menjadi religius tidak berarti tertinggal secara intelektual, melainkan justru mampu tampil adaptif, progresif, dan berdaya saing global. (RFA)

Berita Lainnya